Terima Kasih Telah Menjadi Bagian Temu Inklusi #5

Terima Kasih Telah Menjadi Bagian Temu Inklusi #5

Catatan dari Desa Kapongan: Pengepul Barang Bekas yang "Naik Kelas"

Siang itu (23/6/2026), saya mengunjungi Desa Kapongan, Kabupaten Situbondo. Sampai di kantor desa, saya ditemui ketua Kelompok Difabel Desa (KDD) Kapongan, Busairi. Pria 39 tahun ini sejatinya menggantikan rekannya sebagai ketua kelompok difabel sejak Januari 2025 silam. Sejak saat itu, ia kemudian aktif memimpin anggota-anggotanya sekaligus melakukan banyak koordinasi dengan pemerintah desanya.


Sebelum aktif di KDD Kapongan, Mas Busairi, begitu saya menyapanya, adalah seorang pengepul barang-barang bekas. Ia menggeluti usaha ini dengan berkeliling mengumpulkan barang-barang bekas (rongsokan) yang masih punya nilai jual dari rumah ke rumah. Dengan sepeda anginnya, ia akan mengunjungi titik-titik pengumpulan barang-barang bekas yang sehari sebelumnya ia telah tentukan bersama si empunya. Biasanya, Mas Busairi mengumpulkan barang-barang semisal botol-botol atau gelas-gelas plastik bekas minuman, besi-besi tua sisa-sisa bongkaran atau renovasi rumah hingga buku-buku atau kardus-kardus bekas. Tak jarang, menurutnya, ia juga menerima TV tabung atau barang elektronik rusak yang biasanya ia akan bongkar untuk dijual komponen yang punya nilai ekonomis.


Keterlibatan Mas Busairi dalam perencanaan pembangunan di desanya dulu sangat minim dan dari sinilah sebenarnya cerita ini dimulai. Ia mengaku tidak begitu paham akan proses-proses perencanaan pembangunan semacam Musdus, Musdes, atau Musrenbang Desa. Baginya, semua itu adalah musyawarah biasa. Dulu, ia tidak tahu bahwa ia juga punya suara untuk bisa mengusulkan sesuatu kepada pemerintah desanya terkait kebutuhan-kebutuhan difabel. Ia juga dulu belum tahu bahwa pemerintah desa tidak bisa serta-merta mengabulkan semua permintaan warga desa tanpa melalui mekanisme perencanaan. Bertahun-tahun, posisinya sebagai difabel membuatnya diam-diam percaya bahwa urusan desa bukanlah ranahnya. Pandangan seperti ini yang, disadari atau tidak, masih banyak dianut. Pandangan yang mengisyaratkan bahwa difabel adalah pihak yang menerima keputusan, bukan yang turut menentukannya.  


Sejak Januari 2025 silam, Mas Busairi menggantikan Syaiful Bahri sebagai ketua KDD Kapongan. Dulunya, ia ada di posisi wakil ketua. Dari itu, ia mulai makin aktif menggerakkan anggota-anggota KDD Kapongan. Mas Busairi sering mengunjungi kantor desanya dan membangun hubungan kedekatan dengan pemerintah desa, khususnya kepala desa. Di tahun yang sama, Mas Busairi juga ditunjuk oleh kepala desa untuk menggantikan salah satu petugas kebersihan di Kantor Desa Kapongan yang posisinya kosong karena yang bersangkutan meninggal. Menurutnya, hal ini sebab ia dinilai rajin dan disiplin ketika diberi tugas, utamanya oleh kepala desa. Sebelum berangkat berkeliling mencari barang bekas, Mas Busairi tiap hari akan lebih dulu membersihkan kantor desa dan memastikan kursi-kursi di tiap ruangan pelayanan siap untuk digunakan. Ia juga secara berkala memangkas rumput-rumput liar di depan kantor desa agar terlihat rapi dan indah. Sifatnya yang rajin dan bertanggung jawab ini kemudian banyak mendapatkan apresiasi dari aparatur desa lainnya.     


Mas Busairi juga sering diundang untuk mewakili KDD Kapongan dalam musyawarah desa. Di sinilah pergeseran itu paling terasa. Dari yang dulu tidak tahu bahwa ia punya suara, kini ia justru menjadi salah satu penyambung suara. Ia sesekali memberikan usulan untuk pemberian bantuan bagi anggotanya yang memang membutuhkan uluran bantuan dari pemerintah desanya. Baginya, musyawarah desa adalah salah satu kesempatan untuk bisa menyalurkan suara mewakili difabel di desanya. Tak hanya di situ, Mas Busairi bersama Community Organiser Program SOLIDER–INKLUSI hari ini juga sedang mengajukan bantuan bagi salah satu anggota KDD Kapongan kepada Dinas Sosial Kabupaten Situbondo. Ia tidak hanya mengandalkan pemerintah desanya dalam membantu difabel, ia juga tengah berikhtiar mencoba jalur lain seperti Dinas Sosial. 


Mas Busairi di depan warung kopi kelompoknya/Istimewa


Kedekatan Mas Busairi dengan pemerintah desanya juga membuahkan hasil lain. Ia difasilitasi oleh Pemerintah Desa Kapongan untuk memanfaatkan salah satu sudut bangunan di kantor desa guna mendirikan warung kopi yang dikelola oleh KDD Kapongan. Ia menuturkan, "Pak Kades, mas, meminta saya buka warung supaya yang main badminton tidak jauh kalau beli minum." Desa Kapongan memang telah selesai membangun gedung serbaguna di samping kantor desa yang biasanya dimanfaatkan untuk latihan badminton secara rutin. 


Warung kopi yang dikelola KDD Kapongan ini telah berjalan sejak bulan puasa kemarin. Mas Busairi ini yang selalu rutin menjaga warung ini sembari sesekali dibantu oleh anggota-anggota KDD lainnya. Ia juga bercerita bahwa bila ada turnamen badminton, omzetnya naik. "Pernah satu malam saya dapat Rp600,000, mas. Saya sampai kewalahan melayani yang beli," ucapnya pada saya. Dari keuntungan warung ini, Mas Busairi juga sisihkan sebagian untuk membiayai kegiatan KDD. Dari sinilah kemandirian kelompok itu mulai terlihat, bahwa bantuan bukan satu-satunya sumber daya KDD Kapongan untuk terus bergerak. Baginya, warung ini adalah salah satu cara mandiri dari kelompoknya untuk terus aktif berkegiatan. "Acara selawatan KDD kemarin, suguhan temen-temen saya ambil sebagian dari keuntungan warung ini, mas," cerita Mas Busairi. Masih menurut Mas Busairi, warung KDD Kapongan ini juga membantu aparatur desa. Ketika saya tanya membantu apa, ia jawab sambil berkelakar, "Ya, membantu supaya mereka tidak perlu ngopi di luar kantor desa, mas."


Cerita Mas Busairi barangkali sederhana. Ia adalah seorang pengepul barang bekas yang kini menjaga warung kopi kelompok difabel sembari memimpin kelompok ini di desanya. Tapi di balik itu semua, ada cerita “naik kelas”, yakni dari seorang difabel yang dulu tidak tahu bahwa suaranya punya tempat di ruang musyawarah, menjadi difabel yang kini bisa duduk, bicara, dan mengusulkan di depan pemerintah desanya.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.