Kelompok Difabel Desa Membentuk Komunitas Selawat Antardesa
Siang itu (1/6/2026), saya mengunjungi rumah Asnawi. Ia adalah wakil ketua Kelompok Difabel Desa (KDD) Trebungan, salah satu kelompok penyandang difabel di Kabupaten Situbondo yang didukung Program SOLIDER–INKLUSI. Di rumahnya yang terlihat baru selesai direnovasi itu, saya ditemui ia bersama ibunya. Saya pun dipersilakan untuk duduk di sofa sederhana di ruang tamu. Asnawi adalah penyandang difabel netra sejak ia kecil.
Obrolan saya mulai dari hal-hal kecil seperti siapa saja yang tinggal dengannya. Ia pun menceritakan bahwa ia tinggal dengan ayah dan ibunya di rumah yang baru selesai diperbaiki hasil dari kiriman uang adiknya yang merantau menjadi pekerja migran di Negeri Jiran. Saya lalu menanyakan kegiatannya bersama Kelompok Difabel Desa Trebungan. Saya tahu bahwa Asnawi aktif membantu Pemerintah Desa Trebungan dalam mengelola Perpustakaan Keliling Desa. Terbaru, ia bersama sejumlah pengurus KDD Trebungan menjadi motor penggerak dalam membentuk kelompok selawat yang tak hanya menjangkau desanya saja, tapi juga berhasil merangkul tiga desa lain untuk ikut serta. Kemarin malam, mereka telah melaksanakan pengajian selawat untuk yang ke tiga kalinya dan dihadiri KDD Trebungan, KDD Tenggir, KDD Curah Jeru, dan KDD Tanjung Glugur. Kelompok selawat inilah adalah kelompok selawat pertama di Kabupaten Situbondo yang diinisiasi sendiri oleh penyandang difabel.
Asnawi menceritakan bahwa asal mula kelompok selawat ini dari rencana aksi (program kerja) KDD Trebungan sejak pertengahan tahun 2024 silam. Kegiatan selawat telah mereka lakukan dan dihadiri oleh anggota-anggota KDD Trebungan dan kegiatan ini biasanya dihelat di Balai Desa Trebungan setiap bulan. Memasuki tahun ke dua pelaksanaan, Asnawi merasa bahwa ada penurunan animo dari sebagian anggota KDD Trebungan untuk datang rutin di kegiatan tersebut. Keresahan ini ia sampaikan kepada pengurus KDD Trebungan lainnya saat ia berkumpul di sekretariat KDD Trebungan bulan puasa kemarin. “Ini gimana Program KDD Bersolawat ini? Kok sudah mulai kurang kompak. Ini gimana?” ucapnya pada Basuki Rahmad, salah satu pengurus KDD.
Gagasan KDD Trebungan ini kemudian dikomunikasikan dengan rekan-rekan difabel mereka yang tergabung di KDD Curah Jeru, KDD Tenggir, dan KDD Tanjung Glugur pada April lalu. Mereka merespons positif inisiatif kegiatan yang digagas KDD Trebungan ini. Terjadilah rapat kecil yang dihadiri perwakilan empat KDD ini. Mereka bersepakat untuk membentuk Majelis Selawat yang akan berkegiatan sekali dalam dua minggu dengan mekanisme anjangsana bergantian antardesa. Kelompok selawat ini pun berdiri dan dinamai “Majelis KDD (Kelompok Difabel Desa) Bersholawat” dengan beranggotakan KDD Trebungan, KDD Curah Jeru, KDD Tenggir, dan KDD Tanjung Glugur. Asnawi sendiri yang dipilih mereka untuk menjadi ketuanya. Acara selawat pertama kali mereka adakan pada 3 Mei 2026 ini dan mengambil tempat di Balai Desa Trebungan. Saat itu, ada belasan difabel yang datang dan berasal dari empat KDD tersebut. Kali ke dua, majelis yang baru berumur tiga minggu ini menggelar kegiatan selawat di Balai Desa Curah Jeru pada 19 Mei 2026. Di sini, kegiatan ini dihadiri puluhan difabel. Bahkan, Kepala Desa Curah Jeru, Sandi, dan beberapa perangkat desa juga turut hadir langsung berselawat bersama KDD. Kali ketiga, kegiatan selawat dilaksanakan di Balai Desa Tenggir pada 30 Mei 2026 kemarin. Respons positif juga ditunjukkan oleh Pemerintah Desa Tenggir. Kepala Desa Tenggir, Sugito, dan beberapa perangkat desa ini juga hadir berselawat dan mendukung langsung Majelis KDD Bersholawat.
Saya mendengarkan Asnawi bercerita dengan semangat tentang perjalanan satu bulanan majelis selawat yang dibentuk oleh penyandang difabel itu. Ia mengumpamakan KDD adalah sebuah rumah. Rumah yang ada itu perlu diisi hal-hal yang bagus. Baginya, gagasan Majelis KDD Bersholawat adalah salah satu cara mengisi rumah itu bersama. “KIta ada dalam organisasi yang bagus! Rumah kita semua. Rumah ini, isi dengan perabotan yang juga bagus. Perabotannya, ya, ide, gagasan, kreativitas,” ucap Asnawi pada saya. Ia juga merasa bahwa majelis selawat ini adalah ajang baginya untuk secara rutin bertemu dengan anggota-anggota KDD di desa yang lain untuk silaturahmi.
Asnawi berharap KDD yang bergabung ini makin kompak dan solid sekaligus menunjukkan bahwa KDD punya peranan juga dalam masyarakat. Ia ingin membongkar sedikit demi sedikit anggapan kepada penyandang difabel bahwa mereka hanya objek semata dan tidak bisa menjadi subjek. Ketua Majelis KDD Bersholawat ini pun menyampaikan pesan Supriyadi, rekannya di kepengurusan KDD Trebungan. “KDD bukan hanya menjadi pengikut, tapi bisa juga menjadi pembentuk.” Pesan ini baginya punya arti bahwa penyandang difabel dalam KDD bisa menjadi subjek aktif dalam masyarakat. “Nah, membentuk majelis selawat ini adalah salah satu buktinya,” pungkas Asnawi.

Tidak ada komentar: