Terima Kasih Telah Menjadi Bagian Temu Inklusi #5

Terima Kasih Telah Menjadi Bagian Temu Inklusi #5

Ekonomi Kelompok sebagai Jalan Penguatan: Belajar dari KDK Kademangan

Ketika saya mengunjungi KDK (Kelompok Difabel Kelurahan) Kademangan Senin lalu (3/8/2026), saya teringat satu ungkapan yang sayangnya saya lupa menemukannya di mana. Ungkapan itu berbunyi, “When local businesses thrive, communities thrive.” Secara ringkas, adagium barusan bisa diartikan, “Ketika usaha lokal berkembang, kelompok masyarakat juga akan ikut berkembang.” Hal inilah yang saya lihat jelas dari binar-binar wajah Bu Ekawati, Mbak Etik, Bu Zainab, Bu Sumiati, Bu Indah, dan enam anggota KDK lainnya. Mereka sangat semringah menyambut saya dan delapan orang yang saya ajak berkunjung ke KDK Kademangan hari itu.


Melalui Program SOLIDER–INKLUSI, KDK Kademangan difasilitasi untuk menyusun rencana aksi di tahun 2023. Rencana aksi ini disusun bukan oleh pihak luar untuk mereka, melainkan mereka secara bersama-sama melihat problematika dan potensi kelompok yang ada. Penyusunan rencana aksi merupakan proses yang kelak menjadi fondasi bagi seluruh capaian KDK Kademangan berikutnya. Kala itu, persoalan yang mereka hadapi adalah seputar penghidupan. Akhirnya, rencana aksi KDK Kademangan disepakati adalah membikin unit usaha bersama. Sejak awal 2024, KDK Kademangan merintis usaha kelompok yang memproduksi camilan berupa stik bawang. Bukan tanpa alasan mengapa penganan ini dipilih. Wilayah Probolinggo terkenal akan bawang merahnya yang berkualitas baik. Bahan penting untuk stik bawang tersebut mudah didapatkan oleh KDK Kademangan. Dengan memanfaatkan bahan baku lokal ini, mereka pun memproduksi stik bawang yang mereka jual dengan jenama unik “Stik Bawang Andis”.


“Nama ‘Andis’ itu singkatan lo, Mas,” terang Bu Ekawati kepada saya dengan semangat. “‘Andis’ itu ‘Andalan Disabilitas’,” lanjut Bu Ekawati sambil menjelaskan bahwa produk tersebut adalah andalan KDK Kademangan untuk dapat mandiri di kemudian hari.  


Pemesanan camilan “Stik Bawang Andis” ini memang pada awal-awalnya tidak terlalu lancar. Namun, kegigihan dan harapan kelompok untuk menjadikan produk ini andalan bagi mereka utamanya dengan mengikuti kegiatan bazar UMKM secara rutin plus pendampingan melalui Program SOLIDER–INKLUSI menjadikan unit usaha ini ajeg berproduksi tiap bulannya hingga detik ini. Bagi mereka, pengorganisasian kelompok bisa dimulai dengan membikin kegiatan berkelanjutan dan mendatangkan manfaat ekonomi bagi para anggota kelompok. Inilah pula yang disampaikan KDK Kademangan kepada delapan CBR Workers siang itu.     


Satu unit usaha yang berhasil bertahan ternyata tidak membuat KDK Kademangan berpuas diri. Bermula dari satu unit usaha stik bawang, KDK Kademangan mulai melakukan diversifikasi usaha ekonominya. Pada penghujung 2025, mereka membentuk unit usaha lain berupa bank sampah. Bank sampah ini pun legalitasnya berhasil mereka advokasi kepada Pemerintah Kelurahan Kademangan, sehingga turunlah Keputusan Lurah Kademangan No. 660/006/KEP/425.502.1/2025 tentang Pembentukan Bank Sampah “Pedis Diluk Odhiek Pole” Kelurahan Kademangan Kecamatan Kademangan Kota Probolinggo. Legalitas ini penting dicatat bahwa kelompok difabel yang dulunya sekadar wadah curhat antaranggotanya, kini punya pengakuan formal dari pemerintah kelurahan atas unit usahanya sendiri. Ya, unit usaha anyar KDK Kademangan ini pula dinamai unik oleh mereka, “Pedis Diluk Odhiek Pole”. “Yang jelas, ‘Odhiek Pole’ itu bangkit lagi artinya, Mas,” papar Bu Indah pada saya dan CBR Workers. 


Pertemuan KDK Kademangan Kota Probolinggo dengan CBR Workers Situbondo/Istimewa


Menurut Bu Indah, bank sampah pada hari ini sudah berhasil menghimpun anggota sebanyak 33 orang yang mayoritasnya adalah difabel dan orang tua/pengasuh anak difabel. Bank sampah yang dikelola oleh KDK Kademangan ini bekerja sama dengan Pegadaian Syariah Cabang Probolinggo di mana hasil penimbangan sampah para anggotanya dikonversi menjadi tabungan emas. Bu Indah juga menjelaskan bahwa hasil penimbangan bank sampah di bulan Juli lalu saja mencapai omzet Rp700,000,-. “Saya menanamkan mindset bahwa sampah yang terbuang itu bisa jadi emas ke teman-teman. Jadinya, (dengan melihat manfaat ini, Red.) mereka pun banyak gabung bank sampah KDK,” sambung beliau lagi. 


Ucapan Bu Indah ini menyingkap satu hal penting, yaitu keanggotaan yang bertambah bukan didorong oleh imbauan atau kewajiban sosial, melainkan oleh manfaat konkret yang bisa dirasakan langsung oleh anggotanya. Bank Sampah “Pedis Diluk Odhiek Pole” juga menjalin kerja sama dengan Pemerintah Kelurahan Kademangan dan Sambrunang, usaha kerajinan yang memanfaatkan limbah tali tekstil. Kerja sama ini dilakukan melalui kegiatan “Sedekah Sampah” di mana bank sampah KDK Kademangan menyediakan drop box di sejumlah titik tertentu untuk selanjutnya secara berkala dikumpulkan ke tempat penampungan yang sebelumnya telah disediakan.


Unit-unit usaha ini yang kemudian bagi Bu Ekawati, Bu Indah, Mbak Etik, Bu Zainab, Bu Sumiati, dan anggota KDK Kademangan lainnya menjadi penguat dan perekat mereka dalam berorganisasi. Sejak dua tahun lalu, sebagian laba dari unit-unit usaha itu, mereka masukkan ke dalam kas KDK Kademangan. Praktik ini sederhana, tapi krusial. Alih-alih hanya menyalurkan manfaat ekonomi ke masing-masing anggota, kelompok ini juga mengakumulasi modal secara kolektif. Hal yang kelak dapat membuat mereka tidak selalu bergantung pada bantuan atau program dari luar untuk bisa terus berkegiatan. 


Hal-hal itulah yang kemudian menjadi penguat dalam berkegiatan dan menjalankan program mereka sendiri secara mandiri. Bahkan, menurut pengakuan Bu Indah, unit-unit usaha inilah yang salah satu menjadi pendorong kaderisasi. “Mas Daru ini adalah anggota baru di usaha sirup pokak kami hari ini,” kata Bu Indah. Pembuatan Sirup Pokak, minuman tradisional khas Probolinggo, menjadi inisiatif unit usaha baru KDK Kademangan. “Dulunya beliau tidak aktif di KDK, tapi sekarang alhamdulillah mau aktif,” tambah Bu Indah. Kisah Mas Daru ini barangkali contoh paling gamblang bagaimana usaha ekonomi bisa menjadi pintu masuk partisipasi. Sebetulnya, bukan ajakan bergabung yang normatif, tapi manfaat yang bisa dilihat dan dirasakan langsung yang bisa menjadi pendorong kuat. KDK Kademangan menceritakan bahwa anggota unit usaha stik bawang yang awalnya adalah embrio kemudian berhasil mengajak anggota-anggota difabel lain untuk aktif berkegiatan di KDK Kademangan, mulai dari mengikuti kegiatan-kegiatan bersama pemerintah dan warga kelurahan, terlibat dalam pembuatan stik bawang, menjadi anggota bank sampah KDK, hingga pembuatan sirup pokak dan, yang paling baru, program kebun ketahanan rumah tangga yang mereka namai dengan unik “Kupas Tangguh” atau Kebun Pangan Disabilitas Tangguh.


Perkembangan kelompok difabel ini, bagi saya, dipengaruhi oleh bagaimana mereka bisa mengelola dan memperbesar usaha ekonominya. Dengan menunjukkan manfaat konkret dari berusaha secara kelompok, kelompok ini juga secara perlahan berhasil mendorong perkembangan kelompok difabel. Memang betul ungkapan di awal tulisan ini tadi, “When local businesses thrive, communities thrive.” Ketika usaha ekonomi lokal berkembang, begitu juga kelompok masyarakatnya, tak terkecuali kelompok difabel juga.


Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.