Terima Kasih Telah Menjadi Bagian Temu Inklusi #5

Terima Kasih Telah Menjadi Bagian Temu Inklusi #5

Dari Ditunggui Ibu hingga Duduk di Meja Audiensi: Kisah April dari Curahgrinting

Perempuan muda di depan saya ini baru menginjak usia kepala tiga. Ia dianugerahi dua buah hati yang lucu dan imut. Ia membesarkan kedua buah hatinya bersama sang suami, meski untuk itu ia harus merelakan suaminya bekerja ke luar kota dan pulang sekali dalam beberapa bulan. Ia tinggal di rumah sederhana di Kelurahan Curahgrinting, Kota Probolinggo. Untuk membantu perekonomian keluarga, ia berjualan teh rosela (teh hibiscus). Perempuan anggota Kelompok Difabel Kelurahan (KDK) Curahgrinting ini akrab disapa April.


Seperti namanya, ia lahir di bulan April tahun 1994. Ia lahir dengan kondisi Mikrophthalmia, kondisi yang membuatnya hanya dapat melihat dengan sebelah mata. Sejak kecil, April diasuh dengan sangat protektif. Umumnya, sikap protektif ini lahir dari kasih sayang dan kurangnya informasi tentang hak difabel. April dipandang sebagai individu yang belum mandiri, penakut, dan lemah. Stigma inilah yang kemudian secara perlahan diyakini April sebagai identitas dirinya sejak kecil. Cara pandang semacam ini lazim ditemui. Difabel dibaca sebagai kekurangan pada diri seseorang, sehingga yang dianggap perlu adalah perlindungan, bukan kesempatan. April mengaku takut berhubungan dengan orang-orang baru. Untuk sekadar bertemu dengan pribadi baru di lingkungannya pun, ia tidak percaya diri. Kondisi ini membuat April merasa renggang dengan tetangga-tetangganya. 


“Saudara sendiri pun kalau (saya, Red.) tidak disapa duluan, saya tidak akan menyapa,” kenang April. Ia menekankan bahwa sangat sulit baginya untuk berani bertemu dengan individu-individu baru. 


Sikap protektif juga acap kali membuat April kesulitan bergaul dengan teman-teman sekolahnya. Ia mengaku, semasa duduk di bangku SD, ia sering dilarang untuk mengerjakan PR di rumah teman sekelas. Keluar dari lingkungan rumah adalah hal yang sulit baginya saat itu. Hal ini membuatnya makin penakut dan tidak percaya diri. April bercerita, dahulu, hanya untuk membeli cemilan di warung dekat rumah, ia akan menunggu lama demi memastikan bahwa ia tidak akan berpapasan dengan orang lain. Sikap protektif itu hampir pasti lahir dari kasih sayang. Namun, ketika keputusan tentang ruang gerak seorang anak selalu diambil orang lain, kesempatannya untuk belajar memilih dan menentukan jalannya sendiri ikut menyempit.  


Hal yang tak jauh berbeda dirasakan April ketika ia menempuh pendidikan menengah di salah satu pesantren. Pada tahun pertama, ia tinggal bersama ibu nyai, sebutan kehormatan bagi istri kiai pemimpin pesantren. Pada tahun kedua, ia mulai memberanikan diri tinggal bersama teman-temannya yang lain di asrama pesantren hingga selesai SMA. Selepas lulus, April memilih tidak melanjutkan ke pendidikan tinggi. Ia pernah meminta izin kepada keluarganya untuk pergi ke Pare, Kabupaten Kediri, untuk mengambil kursus bahasa Inggris selama beberapa minggu di sana. Namun, permintaan ini berbuah penolakan dengan alasan tempat yang akan ia tuju sangat jauh dari tempat tinggalnya. Pada titik ini pun, kepercayaan dirinya layu sebelum berkembang.     


Pada medio 2022, Program SOLIDER–INKLUSI diimplementasikan di Kelurahan Curahgrinting, tempat April tinggal. Program ini memfasilitasi terbentuknya KDK Curahgrinting yang menjadi wadah bertemu dan berkumpulnya difabel di kelurahan tersebut. Sebelum kelompok ini ada, tidak tersedia ruang bagi difabel di kelurahan itu untuk saling mengenal, padahal mereka tinggal berdekatan. Ia bercerita kepada saya tentang pertama kali ia mengikuti pertemuan KDK Curahgrinting yang dilaksanakan di aula kelurahan. 


“Pertama ikut kegiatan KDK, (saya, Red.) masih sama ibu, menunggu hingga acara selesai,” tutur April kepada saya. Bahkan, ia menambahkan bahwa pada kegiatan kedua, sang ibunda masih mengantar dan menungguinya sampai acara usai. 


Namun, lambat laun ia menemukan kepercayaan dirinya melalui kelompok difabel ini. Ia menegaskan bahwa di KDK ia merasa punya banyak teman. Hal ini, menurutnya, menjadi semangat tersendiri baginya. Ibundanya pun tidak lagi menungguinya. Perubahan kecil ini penting. Rasa aman ibunda tumbuh seiring ia melihat anaknya berada di lingkungan yang dapat dipercaya. Pergeseran cara pandang tidak hanya terjadi pada April, tapi juga pada keluarganya. Ia mulai bertemu banyak pribadi baru yang selama ini tak dikenalnya, padahal mereka tinggal di kelurahan yang sama dengan dirinya. Pelan-pelan, April mulai bisa lepas dari bayang-bayang cap penakut, lemah, dan tidak percaya diri yang selama ini dilekatkan kepadanya. Tak jarang, ia mulai belajar berbicara di depan teman-teman KDK-nya. Ia pun mulai berani menyampaikan pendapat dan usulannya di kelompok.


Semenjak penghujung 2023, April mulai diberi kepercayaan oleh KDK untuk menjadi pembawa acara saat pertemuan rutin mereka. Ia merasa bahwa KDK Curahgrinting menjadi ruang belajar bagi dirinya. Yang bekerja di sini adalah dukungan sebaya, yaitu ruang yang dikelola oleh dan untuk difabel sendiri, tempat keberanian dilatih tanpa dihakimi. Bekal pembelajaran yang didapat di KDK inilah yang kemudian mendorongnya terlibat dalam kegiatan lain di luar KDK Curahgrinting. Pada Pemilu Serentak 2024, April mendaftarkan diri menjadi salah satu Petugas Pemutakhiran Data Pemilih (Pantarlih). Tugasnya adalah melakukan pendaftaran dan pemutakhiran data pemilih dengan berkunjung langsung dari rumah ke rumah. Keterlibatannya ini bahkan membuat orang-orang di lingkungannya tidak percaya. Dari yang semula menunggu disapa, April kini menjadi salah satu penyelenggara Pemilu di tingkat paling dasar, wujud nyata hak partisipasi dalam kehidupan politik dan publik.


April menceritakan betapa terkejutnya tetangga-tetangganya. Mereka bilang, “Sejak kapan kamu ikut beginian (menjadi Pantarlih, Red.), Pril?” seolah-olah tidak yakin bahwa yang ada di hadapan mereka adalah April yang mereka kenal pemalu itu. Keterkejutan itu menandai runtuhnya stereotip lewat bukti nyata, bukan lewat imbauan.


April pun tak lagi gentar untuk datang dan memasuki gedung-gedung Pemerintah Kota Probolinggo. Ia sering diajak Forum Sahabat Disabilitas Kota Probolinggo untuk beraudiensi dengan Bappedalitbang Kota Probolinggo. Di kantor yang bertanggung jawab atas perencanaan pembangunan kota ini, April memiliki memori yang tak dapat ia lupakan. Gedung Bappedalitbang yang terletak di jalan protokol ini telah lama mengundang keingintahuannya. Ia dan ibundanya sering lalu lalang di depan gedung ini saat ia kanak-kanak. April kerap bertanya kepada ibundanya tentang kantor itu. Halaman kantor terlihat sepi, tetapi mengapa banyak orang yang masuk ke dalam gedungnya?


“Di dalamnya ada apa, ya, Bu?” begitu tanyanya waktu ia masih kecil. Pertanyaan itu kini bisa April jawab sekaligus menuntaskan rasa ingin tahunya karena ia telah acap kali keluar masuk kantor tersebut. Pertanyaan seorang anak tentang gedung perencanaan kota kini terjawab oleh keterlibatannya sebagai perempuan difabel yang turut menyuarakan kebutuhan kelompoknya dalam perencanaan pembangunan. 


April, ke tiga dari kiri, saat melakukan penimbangan di Bank Sampah Rosella yang dikelola oleh KDK Curahgrinting/Istimewa


Hari ini, April yang duduk di depan saya ini adalah pribadi yang berbeda dari April sebelum 2022. Kini, ia adalah April sang sekretaris KDK Curahgrinting. Ia juga dipercaya menjadi Ketua Bank Sampah Rosella, bank sampah yang dikelola oleh KDK Curahgrinting. Tak melulu peran di level kelurahan, April juga berperan sebagai sekretaris HWDI (Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia) Kota Probolinggo. Ia juga tengah mengemban amanah sebagai bendahara Paguyuban UMKM Disabilitas Kota Probolinggo. Sebagai perempuan, ibu, pedagang, sekaligus pengurus organisasi, April memperlihatkan keberdayaan yang utuh di tiga ranah, keluarga, ekonomi, dan kehidupan publik. Ia adalah April, perempuan muda yang percaya diri, mandiri, dan pemberani berkat wadah belajar di KDK. 


Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.