Terima Kasih Telah Menjadi Bagian Temu Inklusi #5

Terima Kasih Telah Menjadi Bagian Temu Inklusi #5

Perkuat Jejaring Nasional, Konsorsium PELITA Akan Kawal Rekomendasi Jaminan Kesehatan Bagi Pasien dan OYPMK Sampai Ke Pemerintah Pusat

Konsorsium Nasional Peduli Disabilitas dan Kusta (PELITA) yang didukung oleh NLR Indonesia, sukses mengadakan seminar dan lokakarya bertempat di Pusat Rehabilitasi Yakkum Yogyakarta. Konsorsium tersebut bertema "Jaminan kesehatan bagi pasien dan orang yang pernah mengalami kusta". Seminar secara daring, Sabtu (18/12/2021) dan lokakarya dilaksanakan secara luring Minggu (19/12/2021). 


Kegiatan yang diadakan oleh Konsorsium PELITA ini merupakan sebuah upaya dalam membangun kesepemahaman bersama terkait penanganan kusta. Selain itu, juga membangun jaringan yang kuat antar lintas sektor dalam penanganan pasien kusta dan orang yang pernah mengalami kusta. Konsorsium ini diikuti oleh 20 organisasi sosial anggota Konsorsium PELITA dan 10 lembaga sosial lokal di Yogyakarta. 


Koordinator Konsorsium PELITA, Bejo Rianto dalam sambutannya menyampaikan bahwa ke depan perlu adanya keberpihakan lebih bagi pasien dan orang yang pernah mengalami kusta. "Konsorsium ini akan menjadi jaringan yang kuat bagi pasien kusta dan orang yang pernah mengalami kusta. Dari konsorsium ini kita akan banyak berdiskusi terkait jaminan kesehatan, bagaimana pasien kusta dan orang yang pernah mengalami kusta lebih diperhatikan dan mempunyai jaminan kesehatan, hingga kita semua terbebas dari kusta," katanya. 


Selain koordinator, dr. Cristina Widaningrum M.Kes selaku technical advisor NLR Indonesia yang bergabung secara daring juga menyampaikan bahwa penyakit kusta masih menjadi masalah yang cukup kompleks baik secara fisik maupun secara sosial.


"Sampai tahun 2020 masih ada 7 provinsi yang belum mencapai eliminasi. Saya berharap tetap ada jaminan kesehatan bagi orang yang pernah mengalami kusta. Selain itu juga ada perawatan yang optimal bagi pasien kusta. Itu semua adalah upaya kita untuk membantu orang yang mengalami kusta dan pernah mengalami kusta," tuturnya pada saat memberikan sambutan.


Perwakilan dari Kemenkes RI, dr. Farida Trihandini MKM yang bergabung secara daring, menyampaikan beberapa poin terkait jaminan kesehatan bagi pasien kusta. "Hal-hal yang penting diperhatikan adalah soal bagian pembiayaan, prinsip pelaksanaan program jaminan kesehatan nasional, ketersediaan jaminan kesehatan, Kesadaran penderita, upaya RSUD dalam penanganan kusta, pelayanan yang prima serta perlunya motivasi kepada pasien," tuturnya. 


Selain itu, Dr. Eko Purbayana Kabid penjaminan manfaat BPJS Cabang Yogyakarta yang hadir secara luring memberikan review terkait program jaminan kesehatan. Kemudian ditanggapi oleh Al-Qodri dari Permata Indonesia yang menyampaikan akibat yang ditimbulkan jika pasien kusta tidak ditangani dengan baik. 


"Pasien kusta yang tidak segera ditangani akan menyebabkan penangan kusta banyak terbengkalai, banyak data disabilitas baru, reaksi berat menimbulkan kematian. Saya rasa seharusnya yang mengalami kusta bisa sembuh karena teknologi sudah canggih sehingga tidak ada lagi disabilitas baru karena kusta," paparnya.


"Tidak adanya rumah sakit umum yang menangani kusta, dikarenakan perubahan rumah sakit umum tidak ada yang menjadi rumah sakit kusta. Saya berharap pembenahan terhadap pelayanan kesehatan yang paripurna bagi orang yang mengalami dan orang yg pernah mengalami kusta segera dilaksanakan," lanjutnya. 

Dalam kesempatan yang sama Sunarman Sukanto, Staf kepresidenan RI juga memberikan pandangannya terkait apa yang telah menjadi pembahasan dari awal. "Sudah jelas gapnya antara kebijakan yang ada dengan yang diharapkan teman-teman. Kebijakan yang sifatnya eliminasi kusta sangat penting, tidak harus mengamandemen undang-undang namun ada pengecualian, rujukan-rujukan yang berjenjang di daerah yang banyak penderita kusta perlu diadakan percepatan dan peningkatan pelayanan. Saya siap mengawal rekomendasi yang dihasilkan dari Konsorsium PELITA untuk didiskusikan di tingkat pemerintah pusat. Kalau perlu segera bentuk tim kecil agar kita bisa eksekusi follow upnya di tingkat pusat," jelasnya.


Kegiatan seminar berlangsung sangat menarik. Beberapa peserta yang mengikuti secara luring maupun daring sangat antusias bertanya dalam sesi tanya jawab. 


Hal yang tidak kalah penting adalah output yang diharapkan dari pelaksanaan konsorsium PELITA. Beberapa outputnya yaitu melakukan pemetaan dan identifikasi layanan, fasilitas dan aksesibilitas kesehatan bagi  pasien kusta dan orang yang pernah mengalami kusta, mengidentifikasi skema jaminan kesehatan secara tepat bagi pasien kusta dan orang yang pernah mengalami kusta dan menghasilkan usulan rekomendasi dalam penanganan pasien kusta dan orang yang pernah mengalami kusta.


Di hari kedua, Konsorsium PELITA dilanjut dengan penyusunan policy brief. Poinnya terdiri dari rekomendasi terkait jaminan kesehatan bagi pasien dan orang yang pernah mengalami kusta serta rencana aksi selama satu tahun ke depan. Rencana aksi tersebut akan menjadi program kerja yang akan dilaksanakan selama satu tahun oleh anggota Konsorsium PELITA, baik rencana aksi Nasional maupun perwilayah berdasarkan provinsi.

Pewarta : Bella Dwi Indah Sari
Editor : Lana_apa

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.