Terima Kasih Telah Menjadi Bagian Temu Inklusi #5

Terima Kasih Telah Menjadi Bagian Temu Inklusi #5

KDK Baru, Cerita Baru

Kelurahan Kedungasem adalah kelurahan terluas di Kecamatan Wonoasih. Menurut rilis BPS Kota Probolinggo dalam “Kecamatan Wonoasih dalam Angka 2025”, luasnya mencapai 3,14 km², atau 28,64 persen dari total luas lima kelurahan di kecamatan ini. Kedungasem juga memiliki jumlah RW dan RT terbanyak, yakni 11 RW dan 43 RT dengan penduduk sebanyak 7.590 jiwa. Di kelurahan inilah, sejak Juli 2025, berdiri Kelompok Difabel Kelurahan (KDK) Kedungasem. Kelompok ini disahkan dengan Keputusan Lurah Kedungasem No. 400.1.5.3/105/425.503.5/2025 dan Andi Solihin tercatat sebagai ketuanya. Sebelumnya, kelurahan ini belum memiliki wadah bagi difabel. KDK dibentuk oleh Pemerintah Kota Probolinggo melihat perubahan partisipasi difabel di enam kelurahan yang lebih dulu didampingi melalui Program SOLIDER–INKLUSI. 


Andi mulai menggunakan tongkat (walking cane) untuk berjalan setiap hari setelah mengalami kecelakaan beberapa tahun lalu. Usianya sudah kepala empat dan ia adalah pedagang kecil yang menjual makanan ringan, marning jagung. Selain berdagang, ia memiliki sepetak kecil lahan yang ia tanami untuk membantu perekonomian rumah tangganya. Sebelum KDK terbentuk, ia belum terhubung dengan komunitas atau organisasi difabel mana pun.   


Andi Solihin menceritakan bahwa sebelum terbentuknya KDK Kedungasem, difabel di kelurahan ini tidak punya kelompok atau organisasi penyandang disabilitas apapun di tingkat kelurahan. Lebih-lebih, difabel di kelurahan ini tidak tahu ada Organisasi Penyandang Disabilitas (OPDis) di level kota, seperti Pertuni, Gerkatin, HWDI, PPDI, atau Forum Sahabat Disabilitas Kota Probolinggo yang merupakan simpul organisasi difabel di Kota Probolinggo. Dia ini menambahkan bahwa sebelum terbentuknya KDK, dia tidak aktif di kegiatan kelurahan, misalkan musyawarah, Musrenbang, dan sebagainya. Dengan demikian, sebelum KDK terbentuk, kebutuhan difabel belum tersuarakan dalam forum perencanaan pembangunan di kelurahan. 


“Di kelurahan saya, tidak ada kelompok untuk difabel, Mas,” ucap Andi Solihin seraya melanjutkan, “saya baru tahu bahwa telah ada kelompok difabel di kota dan KDK di enam kelurahan (dampingan Program SOLIDER–INKLUSI, Red.).”


Sejak terbentuknya Kelompok Difabel Kelurahan (KDK) Kedungasem di pertengahan tahun 2025, Andi Solihin telah mencoba mengorganisasi difabel-difabel di kelurahannya. Ia menuturkan bahwa dirinya mulai menjangkau difabel-difabel untuk melakukan pertemuan KDK. Tak hanya itu, ia juga mulai membangun hubungan dengan individu-individu kunci di Pemerintah Kelurahan Kedungasem. Ketua KDK ini mendorong pemerintah kelurahan untuk ambil peran lebih besar guna mendampingi KDK Kedungasem, utamanya menghimpun data-data difabel di kelurahan tersebut sebab, menurutnya, data difabel terbaru belum ada di kelurahan. Nantinya, data inilah yang akan membantunya untuk makin luas menjangkau difabel-difabel lainnya. Perubahan ini merupakan salah satu hasil yang memang diharapkan dari pembentukan KDK.  


Perubahan baik mulai muncul di sisi kelurahan. Andi Solihin menerangkan kelurahannya mulai membuka keterlibatan difabel sebagai kader PKK. Namun, belum ada difabel yang siap berada di posisi itu menurutnya. Selain ruang keterlibatan di PKK, dia menyebutkan anggota KDK Kedungasem mulai diberi ruang partisipasi oleh pemerintah kelurahan dan LPM (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat). Ia pribadi acap kali diundang dalam kegiatan-kegiatan kelurahan, semisal Pra-musrenbang dan Musrenbang, di mana permasalahan dan kebutuhan difabel kerap kali disampaikannya. Ruang partisipasi ini sebelumnya tidak tersedia bagi difabel Kedungasem.


Di tataran kota, Andi Solihin juga telah membangun relasi dengan Forum Sahabat Disabilitas Kota Probolinggo. Ia mengaku sering dilibatkan oleh simpul advokasi difabel level kota ini untuk kerja-kerja advokasi ke perangkat daerah. Ia adalah salah satu perwakilan dari KDK baru yang mengikuti advokasi penguatan pembangunan kelurahan inklusif berbasis Indikator Kelurahan Inklusif (IKI) Difabel bersama Forum Sahabat Disabilitas Kota Probolinggo. Terbaru, ia dengan forum yang sama juga terlibat dalam pembahasan matriks RAD PD (Rencana Aksi Daerah Penyandang Disabilitas) Provinsi Jawa Timur. 


Andi Solihin, ke tiga dari kiri, saat bazar UMKM bersama Paguyuban UMKM Disabilitas Kota Probolinggo/Istimewa


Selain menjangkau difabel di kelurahannya sendiri, ia, hari ini, juga memperkuat kelompok ekonomi difabel level kota, yaitu Paguyuban UMKM Disabilitas Kota Probolinggo. Hal ini juga bersifat simbiosis mutualisme bagi dirinya karena ia bisa membangun relasi dan memperluas jejaring pemasaran untuk produknya sendiri, marning jagung. Banyak anggota paguyuban ini yang berasal dari KDK-KDK baru yang terbentuk di 2025 kemarin dan memiliki usaha mikro serupa. Bahkan, ketua paguyuban adalah ketua KDK Jati, Gadang Ajiwibowo. Perubahan ini dirasakan Andi dan anggota paguyuban lain, terutama pada perluasan jejaring pemasaran. 


Perjalanan KDK Kedungasem memang masih di tahap awal. Data difabel terbaru belum tersedia, belum ada difabel yang mengisi posisi yang terbuka di kelurahan, dan banyak langkah masih digerakkan oleh seorang ketua. Namun, di kelurahan yang dulu tidak memiliki wadah apa pun bagi difabel, kini berdiri kelompok yang disahkan secara resmi. Suara difabel mulai hadir dalam Pra-musrenbang dan Musrenbang. Jejaring pun juga mulai terhubung, utamanya dengan Forum Sahabat Disabilitas Kota Probolinggo dan Paguyuban UMKM Disabilitas di kota yang terkenal akan anggur dan mangganya ini. Yang berubah adalah difabel di Kedungasem kini memiliki wadah resmi, ruang bicara dalam perencanaan pembangunan di kelurahan, dan jejaring level kota.



Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.